Kontan, setelah Munas III yang diadakan di Yogyakarta akhir Januari lalu, aktivitas IZ’FAM seakan menjadi vacuum. Kajian mingguan bersama tutor Zidni, praktis hanya dihadiri oleh 3-4 orang. Itu juga dengan formasi yang sama, yaitu Asep, Pandu, Hapiz, dan Marulloh.
Hal ini memang telah diprediksi sebelumnya. Selepas masa SMA, praktis kegiatan IZ’FAM menjadi sedikit. Ery yang sekarang berdomisili di Jogja pasti sulit untuk mengikuti acara-acara IZ’FAM. Selain itu, Fadhil bak ditelan bumi, tak ada lagi kabarnya pasca-cgts. Nofec dan Sofian juga sama. Tapi, Ario masih sempat hadir satu dua kali di acara kajian mingguan.
Dalam satu dua bulan ke depan IZ’FAM tidak ada agenda besar, hanya kajian mingguan rutin saja.
March 29, 2009
IZ’FAM baru saja mengadakan acara IZ’FAM Goes to Museum yang diselenggarakan pada tanggal 4 Oktober 2008. Acara yang hampir diikuti oleh seluruh fungsionaris IZ’FAM ini berlangsung seharian penuh. Acara ini dimaksudkan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme bagi para pengurus.

Museum Fatahilah
Acara dimulai dari Museum Fatahilah yang terletak di daerah Kota. Di museum Fatahilah kami banyak menemukan benda-benda peninggalan sejarah mulai dari zaman kerajaan Hindhu-Budha sampai pada zaman Kolonial Belanda. Banyak ukiran furnitur yang dibuat pada zaman penjajahan Belanda dan lukisan-lukisan para Gubernur Jendral Hindia Belanda saat itu, seperti J.P. Coen, Dandles, dan lain-lain. Selain itu kami juga menemukan satu benda unik yang dinamakan “Si Jagur”. Bentuknya agak kontroversial dan memiliki mitos yang aneh. Kami juga masuk ke dalam penjara bawah tanah yang ukurannya sempit sekali.
Kami melanjutkan perjalanan ke Museum Wayang dan Museum Fine Art. Di Museum Wayang kami menemukan banyak jenis wayang mulai dari wayang golek, wayang kulit, dan lain-lainnya. Sedangkan di Museum Fine Art kami banyak menemukan lukisan-lukisan karya pelukis-pelukis tersohor, seperti Afandi dan Raden Saleh. Namun, karena kami tidak ada yang memiliki background art, jadi kami merasa bosan dan bingung mengapa lukisan yang aneh-aneh itu dibilang bagus oleh banyak orang.

Museum Bank Indonesia
Dari museum-museum yang kami kunjungi, Museum Bank Indonesia adalah museum yang paling bagus. Tempatnya yang nyaman dan teratur membuat kami berlama-lama di sana. Di Museum Bank Indonesia dijelaskan tentang sejarah Bank Indonesia dari mulai terbentuknya sampai sekarang. Disana terdapat sebuah auditorium mini yang digunakan untuk memutar film edukasi tentang uang. Bangunannya sangat indah dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi yang menggambarkan kekokohan Bank Indonesia sebagai lembaga yang independen. Kami juga sempat berkunjung ke Museum Bank Mandiri. Namun, karena keterbatasan waktu, kami hanya sempat shalat zuhur dan mengelilingi museum sedikit.

Museum Gajah
Hari semakin siang, kami beristirahat untuk makan di daerah kawasan Glodok. Setelah energi terisi kembali, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke daerah sekitar Monas. Kami berkunjung ke Museum Nasional dan Museum Gajah. Namun, kami kurang beruntung. Museum Nasional sudah tutup terlebih dahulu. Jadi kami hanya bisa menyempatkan berkunjung ke Museum Gajah. Disana terdapat patung-patung Budha. Selain itu, di Museum Gajah juga dilengkapi dengan koleksi benda-benda zaman pra-sejarah. Diantaranya, nekara, moko, kampak lonjong, dan lain-lainya.

Masjid Istiqlal
Saat hari sudah mulai sore, kami akhirnya menyudahi kegiatan acara IZ’FAM Goes to Museum. Kami beristirahat di Masjid Istiqlal. Setelah itu akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing. For Youth Info, Pengurus seperti Fadhil tidak bisa datang karena ada acara keluarga, sedangkan Adis pulang ke kampung halamannya, dan Bisma tidak mendapat informasi.
January 23, 2009
IZ’FAM telah melaksanakan Munas yang pertama pada bulan April 2007. Munas (Musyawarah Nasional) diadakan di Wisma Telkom, Gasibu, Bandung. Munas yang dihadiri oleh enam pengurus dan diselenggarakan selama dua hari. Tujuan Munas diadakan adalah untuk memperkuat tali silaturahmi antar pengurus dan membahas rencana-rencana kedepan.

Munas I IZ'FAM
Isi Munas sendiri lebih banyak membicarakan masalah posisi IZ’FAM saat itu. Munas berjalan cukup alot, terutama saat membahas masalah organisasi internal, yang waktu itu berseberangan dengan IZ’FAM. Munas dipimpin langsung oleh ketua IZ’FAM, Septian Hadi.
Munas ditutup dengan menghasilkan berberapa konsensus penting, diantaranya:
- IZ’FAM berdiri secara independen
- IZ’FAM bertujuan untuk membuat perubahan progresif baik di dalam internal maupun eksternal.
- IZ’FAM akan bersikap kritis terhadap segala budaya konservtif di tubuh eksternal.
Selain mengadakan Munas, IZ’FAM juga berkunjung ke berberapa kolega IZ’FAM di Bandung, untuk memandu IZ’FAM berkeliling-keliling kota Bandung.
January 23, 2009